Ustadz Adi Hidayat: Pejabat Publik Jangan Bikin Narasi yang Kontraproduktif

Video Viral  
Ustadz Adi Hidayat minta pejabat jaga narasi komunikasi yang baik. (sumber: youtube)
Ustadz Adi Hidayat minta pejabat jaga narasi komunikasi yang baik. (sumber: youtube)

JAKARTA — Ustad Adi Hidayat (UAH) meminta pejabat publik agar memperbaiki narasinya. Komunikasi yang ditampilkan kepada masyarakat jangan sampai menghadirkan kata-kata, kalimat-kalimat yang justru kontraproduktif dengan misi-misi yang ingin dibangun.

Hal ini disampaikan UAH melalui video yang diunggah di akun youtube @Adi Hidayat Official. Video ini sudah ditonton tidak kurang dari 633 ribu kali.

DIkatakannya, bagaimana mungkin toleransi akan dibangun bisa dikampanyekan, namun pada saat yang sama kalimat yang ditampilkan, ilustrasi yang ditampilkan bukan sekedar kontraproduktif, tapi berpotensi menyakiti pada bagian-bagian unsur-unsur tertentu dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Rasanya tidak pantas jika persoalan toa harus diilustrasikan dengan binatang tertentu atau hal-hal lain yang tidak sejalan, tidak senafas, bahkan tidak sampai dengan logika,” kata UAH dalam video itu.

Tonton Juga:

Gubernur Sumut: Keraskan Suara Adzan

Somasi Ki Warseno, Ketika Ucapan Alhamdulillah Dipelesetkan untuk Pelacuran

Ustad Adi Hidayat: Ustadz Dibentur-benturkan, Belajarlah dari Kasus Ukraina

Menurut UAH, terkait dengan persoalan-persoalan lain pun, tidak perlu saling menghujat, mencela, dan tidak perlu saling menyalahkan. "Kita hanya perlu saling mengoreksi dan bertanya pada diri kita, apakah kita masih mencintai negeri ini. Apakah masih mencintai bangsa ini,” ungkapnya.

Bila Anda mengatakan 'saya Pancasila', 'saya NKRI', 'saya mencintainya', maka cinta tidak dibuktikan dengan kata-kata. Cinta dibuktikan dengan tindakan, kebijakan, dengan persatuan, serta dengan sikap dan perilaku mulia, dalam berkehidupan.

Menurut UAH, saat ini bangsa sedang menghadapi beragam persoalan. Hal ini tentunyai menguji ketangguhan masyarakat dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat.

Persoalan tersebut sangat kompleks, mulai dari pandemi yang belum selesai, juga ada musibah penyerta terkait dengan bencana alam. Ataupun persoalan di masyarakat yang terlihat semakin terpolarisasi.

Baca Juga:

Sejarah Kopi Liong, Kopi Legenda Bogor

Hukum Minum Kopi Luwak, Halal atau Haram?

Sejarah Kopi Luwak dan Cerita Kesengsaraan Rakyat di Masa Penjajahan

Mengenal 'Kopi Jessica', Jangan Diminum Kamu Bisa Mati

Menjadi hal yang memperihatinkan bila dalam mengatasi itu semua, kita belum mampu bersinergi dengan baik, merekonsiliasi dalam konteks kebangsaan yang utuh, mengamalkan sila ketiga Pancasila.

UAH mengajak semua warga Indonesia bersatu. "Kita semua bisa merekonsiliasi dengan cara yang baik, memperbaiki jalan kehidupan baik. menata kembali hal-hal yang tidak mengarah pada solusi yang tepat guna,” ungkap UAH.

Kepada pejabat publik, UAH meminta dapat membuat kebijakan-kebjakan yang substansial, yang esensial , yang tepat guna, yang memang dibutuhkan masyarakat, dalam konteks bersinergi untuk mengentaskan berbagai persoalan yang dmaksudkan.

Persoalan-persoalan kecil yang tidak membutuhkan perhatian, level-level jabatan besar, selevel menteri, bisa diteruskan kepada pejabat-pejabat daerah atau di lingkungan terkait. Apalagi jika yang dimaksudkan adalah kasus-kasus yang sifatnya domestik, sifatnya kecil, yang tidak harus menarik perhatian, sehingga tidak menjadi kebijakan nasional.

Berikut video lengkap pernyataan Ustadz Adi Hidayat:

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Tukang Ngopi dan Nge-Game

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image