Teuku Umar: Minum Kopi di Meulaboh atau Mati Syahid

Sejarah  
Petani kopi di Gayo Aceh usai memetik buah kopi di kebun mereka. (foto: Thoudy Badai).
Petani kopi di Gayo Aceh usai memetik buah kopi di kebun mereka. (foto: Thoudy Badai).

Gayo menjadi salah satu wilayah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Sejak masa lalu hingga sekarang, aroma dan kenikmatan kopi asal Gayo mampu menyihir siapapun penikmat kopi. Perjalanan panjang kopi asal Gayo mendunia, dimulai kala hancurnya perkebunan kopi di Jawa Barat akibat jamur hemileia vastatrix atau biasa dikenal wabah karat daun.

Ada beberapa versi mengenai kapan masyarakat Aceh mengenal kopi. Versi pertama mengatakan, kopi diperkenalkan oleh masyarakat Aceh dari para pedagang timur tengah. Seperti kita ketahui, kopi pertama kali memang popular di tengah masyarakat Timur Tengah, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai wilayah di dunia. Dan Kerajaan Aceh sejak dulu telah punya hubungan erat dengan Kesultanan Turki.

Jejaknya bisa ditemukan dengan penamaan kahwa, yang berasal qahwa atau kopi dalam Bahasa arab. Bahkan di daerah Gayo, petani setempat memanggil pohon kopi dengan nama Siti Kewe. Berbeda dengan saat ini, dimana Aceh bak negeri Seribu Kedai Kopi alias masyarakat dengan mudah menikmati kopi, pada masa itu kopi hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, mengingat harganya yang masih sangat mahal.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Peninggalan lain yang kemungkinan bisa menceritakan sejak kapan masyarakat Aceh mengenal kopi adalah Prasasti yang ada di komplek pemakaman Pahlawan Nasional asal Aceh, Teuku Umar, di Gle Raya Tameh Uteun Mugo, Gampong, Mugo Rayeuk, Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat.

Dikisahkan pada 11 Februari 1899, Teuku Umar bersama pasukannya tengah berada di pinggir Kota Meulaboh. Kala itu, Teuku Umar tidak mengetahui jika pergerakannya serta pasukannya sudah dibuntuti oleh pasukan VOC. Posisinya terjepit. Sebelum melakukan pertempuran penghabisan, Teuku Umar berujar pada pasukannya "Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan "Besok pagi kita akan minum kopi di Kota Meulaboh atau (jika tidak) saya akan mati syahid (hari ini)".

Dari kalimat penyemangat yang kini terpatri dalam prasasti itu bisa diketahui jika sejak sebelum wilayah Aceh ditaklukan oleh Belanda, kopi sudah menjadi minuman favorit yang banyak dicari.

Pahlawan Nasional Teuku Umar
Pahlawan Nasional Teuku Umar

"Teuku Umar merupakan tokoh asal Aceh yang menjadi idola saya. Kalimat yang disampaikannya bagi saya semacam sinyal bahwa kopi bisa dijadikan harapan untuk masa depan, bukan Cuma untuk saya tapi bagi seluruh masyarakat Aceh. Dari situ juga bisa kita ketahui kopi sudah masuk jauh sebelum Aceh takluk, tapi mungkin tidak mudah mendapatkan secangkir kopi karena masih impor kala itu," ujar Sodikin, praktisi kopi Aceh yang kami temui di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, sambil menunjukan pajangan bergambar Teuku Umar di salah satu sudut warung kopinya.

Versi lain menyebutkan jika kopi pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Sebelum kopi Aceh mendunia, wilayah ini dikenal sebagai sentra penghasil rempah-rempah. Hasil bumi dari Aceh laris diburu pedagang-pedagang dunia, bukan hanya dari benua eropa saja namun juga hingga timur tengah. Perdagangan rempah di Aceh berpusat pada Pelabuhan Pidie dan Pasai. Pemerintah kolonial Belanda yang telah menguasai Jawa, kemudian tertarik untuk mengusai perdagangan rempah di Aceh. VOC kemudian menyatakan perang terharap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1973.

Seperti kita ketahui, perang Aceh merupakan salah satu kisah epik melawan penjajah. Dilandasi semangat jihad fisabilillah, rakyat Aceh bukan hanya rela mengorbankan jiwa raga mereka, namun juga harta benda. Termasuk perkebunan rempah-rempah yang bernilai tinggi. Hingga akhirnya Aceh takluk pada VOC pada sekitar tahun 1904, banyak perkebunan rempah-rempah yang telah rusak.

Pemerintah Belanda yang berhasil menguasai Aceh kemudian mencari cara bagaimana mengembalikan kas keuangan mereka yang terkuras untuk membiayai perang di Aceh, yang menelan biaya tinggi. Mengandalkan penjualan rempah saja nampaknya tidak cukup, karena banyak perkebunan yang rusak selama jalannya perang. Salah satu cara adalah dengan mencoba menanam kopi.

Danau Lut Tawar di Gayo, Aceh Tengah.
Danau Lut Tawar di Gayo, Aceh Tengah.

Orang-orang Belanda pertama kali menanam kopi di Gayo yang berada di wilayah Aceh Tengah. Wilayah Gayo yang mempunyai ketinggian berkisar antara 1000 hingga 1800 Mdpl, cocok untuk ditanami kopi. Belanda kemudian membuka basis pemerintahan baru di Takengon, yang berada di sekitar tepi danau Lut Tawar di wilayah Gayo Highland. Pada tahun 1908, Belanda mulai menanam kopi Arabica disini.

"Hasil panen pertama kopi dari Gayo kemudian dikirimkan ke Belanda untuk uji citarasa. Dan menurut cerita yang saya tahu, Ratu Belanda sendiri sangat menyukai kopi dari Gayo. Akhirnya perkebunan kopi di Gayo diperluas dan dibuka di hampir seluruh wilayah Gayo," ujar Jemalin, petani kopi sekaligus Kepala Desa Tawardi, Kute Panang, Aceh Tengah.

Bukan Cuma jenis Arabica, Belanda juga menanam kopi jenis Robusta di Aceh. Pengembangan perkebunan kopi di Aceh dilakukan secara besar-besaran hingga tahun 1933. Berbeda dengan di Jawa, di Aceh, Belanda tidak menerapkan tanam paksa untuk membudidayakan kopi. Salah satu alasannya, karena meski Kerajaan Aceh telah berhasil ditaklukan, namun perlawanan rakyat Aceh secara gerilya dengan kelompok-kelompok kecil masih sering terjadi. Belanda tidak mau terlibat kembali dengan perang besar yang menguras biaya.

Cara Belanda agar rakyat Aceh tidak merasa 'dipaksa' menanam kopi adalah dengan membiarkan mereka juga ikut menanam kopi di kebun mereka, disamping tanaman sayur mayur, yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat diajarkan cara membudidayakan tanaman kopi di lahan mereka.

Namun, Belanda tetap melarang masyarakat mengkonsumsi kopi Arabica, karena akan dibeli oleh Belanda untuk di ekspor. Sementara masyarakat tetap diizinkan mengkonsumsi biji kopi robusta dari kebun mereka sendiri. Hal ini yang juga turut menyumbang tradisi minum kopi di Aceh hingga sekarang.

Sejumlah jejak bekas peninggalan perkebunan kopi Belanda masih bisa ditemukan hingga saat ini di wilayah Aceh Tengah. Salah satunya di Desa Wih Porak, Silih Nara, Aceh Tengah. Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, perkebunan-perkebunan kopi milik Belanda diambil alih oleh pemerintah Indonesia.

Bekas pabrik pengolahan kopi di Bandar Lampahan, Bener Meriah, Aceh.
Bekas pabrik pengolahan kopi di Bandar Lampahan, Bener Meriah, Aceh.
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Journalist, coffee enthusiast, Liverpool FC die hard fans

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image