Antara Islam, Kopi, dan Kaum Sufi

Sejarah  
Kaum sufi (ilustrasi)
Kaum sufi (ilustrasi)

JAKARTA — Bicara tentang perjalanan kopi menjadi sajian minuman yang mendunia, memang tidak bisa dilepaskan dari Islam. Mulai dari kisah-kisah awal mula penemuan kopi, pengolahan kopi, hingga penyebaran kopi. Kisah-kisah ini banyak yang dikaitkan dengan Islam.

Seorang sufi Yaman Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili menjadi cerita awal penemuan kopi. Meski ada juga cerita penggembala kambing, Kaldi, yang juga muncul sebagai penemu kopi.

Saat Ghothul Akbar kelelahan dalam perjalanan ke Ethiopia, ia memakan buah tanaman kelinci. Usai memakannya, ia merasa dirinya lebih bertenaga.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Lalu ada juga cerita tentang seorang sufi dan juga tabib dari Kota Al-Mocha di Yaman, Sheikh Omar, yang disebut sebagai orang pertama yang meroasting kopi dan menjadikannya minuman.

Baca Juga:

Muslim Yaman, Muslim Pertama yang Mengolah Kopi

Saat Kopi Disebut Minuman Orang Kafir

Minuman itu kemudian dikenal masyarakat dengan nama qahwa. Konon kata Qahwa merujuk pada Kaffa, sebuah wilayah di sebelah barat daya Ethiopia, yang kemungkinan merupakan tempat pertama kali Sheikh Omar menemukan, mengolah, dan meminum kopi.

Ketenaran qahwa membuat biji kopi menjadi komoditas yang banyak diperdagangkan. Pedagang-pedagang dari Suriah kemudian membawa kopi ke Turki. Dengan cepat, kopi juga menjadi minuman favorit di Turki, yang kala itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ottoman.

Pada Abad ke-15, kopi telah menyebar di jazirah Arab hingga mencapai Mekkah, Kota suci bagi umat Islam. Peziarah dan jamaah haji yang datang ke Mekkah dan Madina, turut mendorong semakin popularnya kopi di dunia. Seperti di Yaman, tempat-tempat minum kopi juga semakin banyak dibuka di wilayah Mekkah dan sekitarnya.

Keterkaitan kopi Islam tidak hanya sampai di situ saja. Pada Abad ke-10, Ibnu Sina meneliti efek dari kopi dalam perspektif medis melalui karyanya, al-Qanun fi al-Tibb. Ibnu Sina mengklasifikasi jenis-jenis kopi.

Menurutnya, kopi yang baik dan unggul mesti berwarna kuning dan bobotnya ringan. Adapun kopi berwarna putih dan cenderung berat adalah yang buruk.

Ibnu Sina mengakui beberapa manfaat meminum air kopi, semisal dapat mempertahankan kesehatan tubuh, membuat kulit menjadi bersih, dan mengurangi kelembapan kulit. Aroma kopi juga dinilainya menstimulus kesehatan tubuh dan pikiran.

Bagi kalangan sufi maupun ulama, kopi juga sangat dekat dengan mereka. Meminum kopi seolah menjadi tenaga ekstra untuk memperbanyak ibadah di malam hari. Mereka menjadi lebih kuat untuk berdzikir dan bermunajat pada Allah, dari tengah malam hingga waktu subuh.

Mengutif //suaramuslim.net, disebutkan keberadaan kopi di Makkah juga sangatlah populer. Menurut sejarawan Arab, kopi bahkan disajikan di Masjidil Haram. Karenanya, jarang sekali ada acara zikir atau maulid tanpa adanya suguhan kopi. Al Azhar, Mesir, juga menjadi pusat dari acara minum kopi yang kemudian dijadikan ritual resmi. Penulis abad ke-16, Ibnu Abdul Ghaffar, menceritakan mengenai suasana pertemuan para darwis atau penganut sufi di Kairo.

“Mereka minum kopi setiap Senin dan Jumat, menyajikannya dalam wadah yang besar terbuat dari tanah liat merah. Sang pemimpin kemudian menyendokkan minuman itu dan membagikan kepada para pengikutnya, mulai dari sebelah kanan, sambil mereka menggumamkan lafaz-lafaz tertentu, biasanya La Ilaha Illallah”. Para sufi di Yaman pada masa lalu meminum kopi sambil melafalkan ratib, dzikir dengan mengulang-ulang kata Ya Qawiyyu (Wahai Pemilik Segala Kekuatan) sampai 116 kali.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image